Kamis, 18 Maret 2010

Memaknai hakikat Shalat dan Syariat

Kita sering mendengar kata syariat, terlebih lagi ketika kita membahas tentang peribadatan. Syariat berhubungan dengan tata cara kita beribadah kepada Tuhan. Syariat disusun oleh para ahli fiqih pada abad ke-12H untuk mengatur tata cara peribadatan kepada Tuhan. Selain berisi tentang tata cara peribadatan, syariat juga berhubungan tentang hubungan ukuwah sesama pemeluk agama.

Dewasa ini kita sering meneriakkan bahwa syariat harus dijalankan sebaik dan sesempurna mungkin, bahkan tidak jarang kita memaksakannya kepada orang lain yang kita anggap masih salah menjalankan. Tanpa kita sadari, dengan melakukan ini kita sudah terjebak dalam sebuah peribadatan semu. Kenapa dikatan semu? karena kembali lagi pada intinya, bahwa syariat itu adalah semata-mata sebuah tata cara, sedangkan bagaimana individu menjalankannya itu tergantung individu itu sendiri. Syariat ibarat warna dan bentuk baju, warnanya tergantung selera dan budaya orang yg memakai. Bentuknya tergantung kondisi geografi dan iklim dari tumbuhnya budaya dan agama. Syariat tidak boleh dipaksakan kepada setiap individu. Contoh konkret penjalanan syariat yang berbeda-beda adalah gerakan pada saat kita menjalankan shalat ada yang bersedekap didepan dada, ada yang bersedekap di depan pusar, bahkan ada yang tangannya tergantung bebas.

Dikatakan dalam Q.S> al-Ma-un (107) :4-7 ditafsirkan bahwa : Pelaksanaan salat (sebagai bentuk pengamalan syariat) bukanlah sebuah tujuan dalam hidup ini. Salat merupakan etika dalam kehidupan beragama. Makna dan tujuan di balik pelaksanaan salat itu yg tidak boleh diabaikan. Justru salat merupakan hal yg mencelakakan manusia bila hanya dikerjakan sebagai pemenuhan formalitas, tak memberikan manfaat bagi orang-orang yg menderita.

Yang diperlukan saat ini bagaimana kita memaknai hakikat syariat bukan hanya sebagai tata cara perilakunya tetapi nilai esensi yang tergantung didalamnya. Syekh Siti Jenar dalam Pupuh Syekh Siti Jenar Pupuh III :38 dan 41 mengatakan bahwa :

Sadat salat pasa tan apti,
Seje jakat kaji mring Mekah,
Iku wus palson kabeh,
Nora kena ginugu,
Sadayeku durjaning bumi,
Ngapusi liyan titah,
Sinung swarga besok, Wong bodho anut aliya,
Tur nyatane pada bae durung uning,
Seje ingsun Lemahbang.

Dari Pupuh diatas Syekh mengatakan bahwa rukun Islam (syahadat, salat, zakat, puasa dan haji) sudah menjadi palsu. Kenapa dikatakan palsu? karena nilai esensi dari rukun Islam itu sudah hilang, yang ada saat ini hanyalah syariat yang dijalankan sebagai bentuk formalitas. Syariat dijalankan hanya semata-mata sebagai sebuah pengguguran kewajiban, sebagai pengharapan akan adanya surga dan menghindari neraka. Padahal dalam Al Qur'an dijelaskan Inna sholatatanha anilfaksa'i wa munkar. Sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Tidak ada yang namanya sholat itu membuat kita masuk surga. Surga baru bisa kita dapat ketika sikap dan perbuatan kita sudah jauh dari perbuatan keji dan munkar. bandingkan dengan sikap dari kebanyakan orang saat ini, orang-orang berbondong-bondong pergi ke masjid, mushola, menyumbang masjid namun mereka juga melakukan perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), hak orang lain direbut. ini tentu bukan pengamalan sholat sebagai bentuk penghindaran perbuatan keji dan munkar dan bentuk pengamalan syariat yang seperti ini yang dianggap oleh Syekh Siti Jenar dalam Pupuh diatas sebagai sebuah kepalsuan.

1 komentar:

  1. astagfirullah... memang saya melhat kini banyak orang yang sholat, tetapi waktu saya tanya apa itu sholat,apa hakikatnya sholat banyak yang tidak bisa menjawab...pernah juga saya membaca hadis akan datang masa banyak orang yang sholat tetapi sebenarnya dia tidak sholat..
    salam kenal ya.. saya mansur

    BalasHapus